#1
Senja ini selalu sama
Kadang jingga, setengah merah, setengah biru
Kalau sedang mendung warnanya kelabu
Mungkin bagi sebagian orang indah dipandang
Tapi tidak bagi warga metropolitan
Senja hanyalah lambang kelelahan
Akhir dari sebuah hari yang akan terulang esok
Monoton, selalu begitu saja
Hanya terlihat berbeda jika menjelang hari libur
#2
Aku melihat senja seperti melambai
Tersenyum sambil malu malu
Mau pamit, katanya
Kutanya kemana. malah diam saja
Senja, akankah kau kembali besok?
#3
Rupa-rupa warna merah menggantung di angkasa
Lamat-lamat berubah menjadi gelap
Cahayanya semakin redup
Tapi ada satu merah yang tetap menyala
Sinarnya cerah tapi menyejukkan
Bibirmu kah itu?
#4
Hari ini gelap
Tak ada lagi jinga-jinga yang mengudara
Hanya ada kelabu yang disertai rintik basah
Tak ada lagi aroma khas yang hanya keluar saat itu
Senja, kamu dimana?
-15/07/2017
Sekarang aku mengerti, kenapa kadang seseorang harus menjadi egois. Sebenarnya, bukan karena ia ingin menjadi egois dan mengabaikan semuanya. Tapi, ia hanya butuh waktu sejenak untuk melupakan semua penat yang menggantung dipundak dan kembali menjadi pribadi yang lepas dari segala macam 'rasa tanggung jawab' untuk melayani semua orang yang ada disekitarnya.
Aku ingin sekali menjadi manusia egois, cukup saat ini. Setelahnya, aku akan kembali menjadi yang semua orang pikirkan. Setidaknya beri aku waktu hanya untuk membahagiakan diriku sendiri, sekali ini saja. Kumohon, aku sudah tak tahan lagi. Sudah terlalu lama aku hidup memikirkan bagaimana caranya membahagiakan semua orang hingga aku lupa sebenarnya apa yang aku sukai, apa yang aku inginkan, bahkan aku lupa bagaimana caranya membahagiakan 'aku'.
Kumohon, aku tak pernah meminta ini-itu kepadamu. Aku tak pernah menyuruhmu melakukan hal yang tak kau inginkan. Hanya untuk kali ini saja, sekali ini saja, izinkan aku menjadi egois. Izinkan aku untuk kembali mengosongkan kepala dan hatiku dari semua kepenatan dunia ini, dan melepas semua beban yang ada dipundakku ini. Setelahnya, aku akan kembali kepadamu. Aku akan kembali menjadi apa yang kau mau, menjadi budak yang selalu kau suruh ini itu. Aku pastikan aku sudah siap saat aku kembali.
Izinkan aku melihat pantai sendirian, menjelajah gunung sendirian, menyeberangi laut sendirian, berlari sendirian, duduk sendirian, bahkan tertawa sendirian. Biarkan aku menjadi gila. Toh aku memang sudah gila. Hanya saja aku sedang berpura-pura menjadi orang waras agar tidak ketahuan. Tapi aku berani jamin, setelah aku menjadi gila, aku akan lebih waras dari sebelumnya.
Untuk kali ini saja, izinkan aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi.
Kalau kamu hanya menjadikanku halte untuk singgah, aku tak apa
Kalau kamu hanya menjadikanku persembunyian sementaramu, aku terima
Kalau kamu hanya anggap aku tempat ceritamu, ya aku tak masalah
Sudah biasa, dan aku sudah kuat, semoga
Tapi kalau kamu menganggapku sebagai rumahmu dan tempat kembalimu, ya sudah tentu aku mau dan aku terima
Lha rejeki masa' mau ditolak, kan bodoh itu namanya
Penyair Gadungan
Kau kira aku apa
Seenaknya datang lalu pergi
Kembali lagi sesukamu
Lalu menghilang tanpa jejak
Aku bukan haltemu
Bukan juga mainan
Aku masih punya hati
Walaupun sudah terserak dan tertiup angin
Jika menurutmu air mata itu hiburan bagimu
Pergi sajalah ke hutan
Maka kau dapati banyak air yang terjun
Tak usahlah kau kuras punyaku
Sampai kerontang tak sisa
Hingga kudaki puncak lalu teriakku
Menggema bersama seluruh sembiluku
Lalu turun menjelma hujan
Kau sudah mampir ke toko yang salah
Ia sudah lama pindah
Bertemu rumah baru yang nyaman
Bukan gudang usang seperti punyamu
Bahkan rumah hantu lebih baik
-Gadis Lugu Di Pasar Minggu
Hujan masih setia membasahi malam sepiku, membuat para pemimpi bersandar pasrah pada jemari lelap panjang. Sedangkan bayanganku masih setia menemaniku berdiri diujung bingkai basah, mendekap semua resah yang kau ciptakan lewat kata. Aku lemas, bertumpu seadanya pada sebuah ujung disana.
Seakan tak ada lagi pagi untuk esok, setelah kau sembunyikan dibalik seimut tebalmu. Resah masih bersamaku, ia enggan beranjak karena hujan masih bertumbangan. Ingin kusiram luka yang menganga sedari pagi, setelah kau beranjak pergi bersamanya.
Kau yang hanya meninggalkan senyuman diujung bangku lapuk di taman itu, tanpa titipan nasehat. Membuatku harus memilih terluka, tenggelam dalam kubangan gelap bernama pahit. Jika saja kau tak datang saat hujan, mungkin aku hanya akan membenci nyamuk.
Ketika kau memilih untuk memperbaiki kisahmu, dan menggantikanku dengan ia yang bisa menggenggam tanganmu sekarang. Aku hanya mampu menggantikan hadirmu dengan kenangan yang sepotong-sepotong itu, beserta penggalan lain dari puisi yang hilang.
Semoga esok, langit masih berbaik hati membuat pagi yang baru, untuk mengganti malam yang basah oleh rindu dari sebuah ruang. Dan burung-burung masih setia bernyanyi, menghibur seorang pemuda ringkih dari masa lalu. Agar ia sanggup berjalan lagi untuk mencari kepingan pelangi yang terisak disebuah senja.
Aku membencimu Sungguh aku sangat membencimu Dengan mudahnya kau lakukan itu semua Seakan tak berdosa setelahnya Bagaimana aku tak membencimu Semudah itu kau membuatku terjatuh Mengempas jauh dalam dekapmu Melahirkan sebuah kata bernama nyaman Bagaimana aku tak membencimu Bila akhirnya semua sederhanamu Bahkan hanya sebuah senyum kecil Bisa membuatku menginginkanmu Sungguh aku membencimu Dan semua cara-cara sok sederhanamu Yang harus bertanggung jawab Karena membuatku mencintaimu Maaf jika aku membencimu Tapi kau yang memintanya Bahkan jika nanti kau pergi Aku akan benar-benar membencimu Mengapa semudah itu kau datang disetiap diamku Membuyarkan semua lamunan indahku Meskipun beberapa memang tentang kau Tapi, gengsi lah jika kau tahu Tatapan teduhmu sudah meronakan wajahku Asal kau tahu saja ya Jika aku membencimu, karena aku yakin Benci lahir dari rahim cinta -Penjahat Kecil