Showing posts with label Roman. Show all posts
Showing posts with label Roman. Show all posts
Seorang kawan bertanya
Bagaimana cara mengukur rindu
Karena tak ada satuan  khusus dalam ilmu hitung
Yang kutahu, manusia mengukur rindunya dengan cara yang aneh
Ada sebagian yang mengukur rindu dengan jarak
Ada pula yang mengukur dengan waktu
Kemudian ada yang mengukur dengan malam yang dihabiskan melalui percakapan semu
Bercerita, agar terasa dekat
Meski raga mereka tak sedang bersama
Ada pula yang menghabiskan malamnya penuh kesia-siaan
Karena selalu mengukur rindu dengan hal-hal yang lalu
Yang sebenarnya ia tahu, tak akan pernah berulang
Yang lebih menyedihkan
Ada yang merindu dengan masa lalu
Entah karena tumbang ditengah jalan
Atau hilang ditengah lautan
Tapi ada orang yang hebat dalam merindu
Ia habiskan malam panjangnya tersungkur
Berlinang dan memohon
Hingga basah lantai oleh airmata
Menghitung rindu dengan sujud-sujud terakhirnya
Karena yakin, dibalik kekuatan jarak dan waktu
Masih ada kekuatan dahsyat tersembunyi
Tapi diragukan oleh para penghuni bumi
Yang dungu akan kuasa langit
Diujung malam-malam yang dingin

Akupun sedang merindu
Bintang, adakah dia disana?
Yang selalu kusebut setiap malam
Yang tak pernah luput dari doa
Yang kuharap untuk disegerakan

Bintang, adakah dia disana?
Yang kuharap akan menggenapi
Menemani sisa umurku
Hingga tiba saatnya malaikat menjemput

Bintang, adakah ia disana?
Menyamar jadi salah satu kerlip
Diatas sana, ikut mengawasi
Hingga tiba saatnya, ia turun ke bumi

Bintang, adakah dia disana?
Semoga aku tidak lelah menunggu


-Sleman, 17/7/17
#1
Senja ini selalu sama
Kadang jingga, setengah merah, setengah biru
Kalau sedang mendung warnanya kelabu
Mungkin bagi sebagian orang indah dipandang
Tapi tidak bagi warga metropolitan
Senja hanyalah lambang kelelahan
Akhir dari sebuah hari yang akan terulang esok
Monoton, selalu begitu saja
Hanya terlihat berbeda jika menjelang hari libur

#2
Aku melihat senja seperti melambai
Tersenyum sambil malu malu
Mau pamit, katanya
Kutanya kemana. malah diam saja
Senja, akankah kau kembali besok?

#3
Rupa-rupa warna merah menggantung di angkasa
Lamat-lamat berubah menjadi gelap
Cahayanya semakin redup
Tapi ada satu merah yang tetap menyala
Sinarnya cerah tapi menyejukkan
Bibirmu kah itu?

#4
Hari ini gelap
Tak ada lagi jinga-jinga yang mengudara
Hanya ada kelabu yang disertai rintik basah
Tak ada lagi aroma khas yang hanya keluar saat itu
Senja, kamu dimana?


-15/07/2017
Tiga bulan pertama
Kau mendatangiku tanpa kata
Singgah diujung bangku ringkih itu
Lalu kita sama terdiam dihempas sunyi

Tiga bulan pertama
Kau mulai memberi nama
Aku pun memberi nama padamu
Lalu kita mulai bercakap, tertawa, bernafas dan bersiul

Tiga bulan pertama
Siang semakin sejuk
Malam semakin benderang
Senyum pun makin terkembang

Kemudian semua tak sama
Kau tiba, namun tak berkata
Hanya meletakkan begitu saja
Amplop biru yang membuatmu bisu

Kemudian semua jadi gelap
Tak ada lagi gemuruh tawa
Hilang sudah kicau angsa
Riak danau pun menghilang

Tiga bulan berikutnya
Takdir membawaku ke taman mimpi
Lalu kulihat kau tertawa dan bercakap
Bersama bidadari barumu

-Sebuah Saduran
Satu satunya hal yang irasional adalah cinta. Cinta membuat seaeorang tidak berada di tempat yang seharusnya. Ia sanggup mengubah seseorang yang awalnya membenci sesuatu berubah menjadi menyukainya, bahkan sebaliknya. Cinta adalah kekuatan maha dahsyat yang sampai saat ini masih belum ditemukan partikel partikel spesifik yang menjadi penyusunnya. Kekuatan masif, yang sangat mengagumkan, juga mengerikan.

Cinta mampu memnyembuhkan orang sekarat dengan ajaib, dan mampu membuat orang yang awalnya berakal sehat menjadi gila. Sudah banyak bukti nyata dari semua kriteria diatas yang terjadi dalam realita sehari hari penduduk alam semesta ini. Ilmu matematika sampai saat ini tak mampu menemukan rumus penyebab seseorang jatuh cinta, bahkan sains pun tidak dapat menyusun senyawa cinta.

Satu satunya ilmu yang mampu menterjemahkan cinta dalam bahasanya sendiri hanyalah filsafat, dan sastra. Darinya, tak perlu ada kamus yang menjabarkan tentang cinta. Biarkan manusia memilih, apa sebenarnya cinta menurut mereka. Karena cinta tak pernah bisa dipaksakan.

Tapi seyogyanya kita juga mempertimbangkan masak masak sebelum memutuskan untuk mencintai sesuatu, atau seseorang. Ingatlah, diatas langit masih ada langit. Masih ada Sang Pemilik Cinta yang mengasihi hamba-Nya tanpa pamrih. Yang selalu mengawasi kita siang-malam, bukti cinta yang suci dan murni Masih ada orang tua yang selalu mengasihi dan menjaga kita tanpa kenal lelah, menunjukkan makna cinta yang sebenarnya, juga bukti dari kekuatan kolaborasi cinta dan kasih sayang manusia. Boleh jatuh cinta, asal kita tetap berusaha menjadi diri sendiri dan tidak terlalu menggebu, yang ada malah hanya menjadi nafsu belaka.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus lebih menyibukkan diriku lagi. Aku tak ingin punya waktu senggang meski hanya sebentar", katanya tegas sambil menghisap batang rokoknya yang tinggal seruas jari itu.
"Loh, kenapa? Kamu nggak takut kecapekan terus sakit?", balasku heran.
"Nggak, kenapa takut? Kalau memang sudah lelah, biar saja sekalian sampai aku mampus. Aku lebih lelah harus memikirkannya setiap kali ada waktu kosong. Membuatku semakin gila dan sesak. Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan mati semudah itu"
Aku masih terdiam, mencerna kata-katanya barusan. Sepertinya dia memang memerlukannya.
"Tapi kamu nggak perlu sampai memaksakan dirimu begitu, masih banyak perempuan baik diluar sana yang mau menerima dan menghargaimu apa adanya", termasuk aku. Sial, yang terakhir hanya tertahan dalam nafas.
"Makasih, Sa. Kamu selalu peduli denganku. Tapi aku sudah terlalu lelah berdebat dengan hatiku sendiri, biarlah nanti hatiku membusuk lalu mati. Toh, tak akan ada yang menangisinya, kan?", dia tersenyum. Aku tahu, senyumnya terlalu dipaksakan. Jauh didalamnya, ia terluka. Apakah kamu tidak sadar, bahwa aku yang akan menangisimu. Menangisi kepergian hatimu, karena sudah terlanjur kau kunci rapat-rapat.
"Sudah malam, Sa. Aku pamit dulu", kemudian aku hanya melihat punggungnya yang menghilang ditelan pintu.
Kalau kamu hanya menjadikanku halte untuk singgah, aku tak apa
Kalau kamu hanya menjadikanku persembunyian sementaramu, aku terima
Kalau kamu hanya anggap aku tempat ceritamu, ya aku tak masalah
Sudah biasa, dan aku sudah kuat, semoga
Tapi kalau kamu menganggapku sebagai rumahmu dan tempat kembalimu, ya sudah tentu aku mau dan aku terima
Lha rejeki masa' mau ditolak, kan bodoh itu namanya


Penyair Gadungan
Pada kenyataannya, aku memang belum layak mendampingimu
Karena waktu tega menggerus semua anganku lebih dulu
Toh semua yang kuusahakan untukmu hanya kau pandang seperlunya saja
Kemudian kau berpaling dan kembali kepadanya
Ah, sampai kapanpun aku ini memang bodoh
Bodoh karena terlalu melangit
Barangkali sekarang aku takut ketinggian
Sebab sering kutaruh angan terlalu tinggi
Bahkan menatapmu pun tak ada kuasa
Hanya doa dan mimpi yang mau bersiasat
Membantuku memelukmu dalam gelap
Ternyata jauh itu bukan melulu perkara jarak
Tapi juga urusan hati dan logika
Meski kau dekat, jika pintumu memang hanya untuknya
Aku disini hanya bisa memandang dikejauhan
Karena tak mungkin kumasuk lewat jendela
Macam kucing basah yang lapar
Kuharap kau baik-baik saja disana
Kalau dia menyakitimu lagi, bilang saja
Biar aku yang hapus dukamu
Entah sampai kapan, tapi aku masih untukmu
Semoga hujan malam ini mau melunturkan sedikit anganku tentangmu
Dan membawanya hanyut jauh dibawah tempatku berdiam

Halte, Menjelang Jumat

Tidurlah, hari sudah larut
Sebentar lagi subuh menjelang
Tidurlah, lupakan segala penatmu
Rebahkan kepalamu di dadaku
Sisihkan sejenak dukamu
Biarkan aku mendongeng untukmu
Sebuah dongeng yang kau suka
Bermimpilah, biarkan aku yang menjaga ragamu
Akan kupeluk semua luka basah itu
Agar tetap hangat kau meski badai turun
Semoga, embun yang hinggap di bingkai dapat menyegarkanmu
Atau, biar aku saja yang membangunkanmu dengan satu kecup

Entah aku yang bodoh atau memang kau yang begitu mempesona, yang aku tahu senyum kecilmu tanpa sengaja membuat jantungku berdetak kencang. Memang tak kutemukan hal istimewa darimu, tapi kesederhanaan dan kepolosanmu mewarnai hidup telah menjadi magnet besar yang menarik hatiku kedalamnya. Maka, jika kau berkenan, bolehkah aku ikut mewarnai harimu? Maaf jika kemudian isanku terlalu lancang lantas meneriakkan namamu dipuncak gunung. Semoga kabut pagi mau membersihkan dosaku karena mengagumimu

Dalam hidup ada banyak hal yang tak bisa kita hindari. Seperti cinta dan kehilangan, misalnya. Bahwa kita tak pernah tahu bahwa cinta selalu datang tiba-tiba, sebelum akhirnya kita sadar. Dan bahwa kita tak harus memiliki untuk merasakan kehilangan. Juga kenyataan lain bahwa manusia dapat mendadak bijak ketika sedang kehilangan.

-Stasiun Kereta, Menjelang Subuh



'Setidaknya' adalah kata yang paling sering kugunakan untuk tetap bersyukur dalam memaknai setiap kehilangan, daripada mengeluhkannya. Seperti halnya denganmu, meski aku belum sempat menggenggam jemarimu. Setidaknya, pernah ada senyum yang sengaja kau bikin untukku. Setidaknya, Tuhan masih mengizinkanku jatuh cinta denganmu. Setidaknya, kau pernah memberiku kesempatan. Setidaknya kau masih mengizinkanku berjuang sampai detik ini. Dan setidaknya lagi, aku pernah punya harapan. Biarlah semua ekspektasi itu menjadi liar tiap gelap menjelma, setidaknya kau pernah begitu nyata disampingku. Dan meskipun hanya satu malam kulalui denganmu, kuharap kau abadi dalam puisiku. Terimakasih telah membuatku selalu menyebut namamu dalam setiap doa yang masih kunyanyikan hingga sekarang.
-Kota Jancuk, Ba'da Isya'

Jika bagimu rumah adalah tempat untuk kembali dan tak pergi lagi, maka bagiku rumah adalah tempat dimana aku selalu ingin kembali. Tak peduli berapa kali kau pergi, aku akan selalu rindu untuk pulang. Rumah adalah tempat untuk bernaung, dan merindu dalam kehangatan.
Bagiku, semua adalah rumahku. Entah rumah itu pernah memberiku pengalaman atau bahkan pelajaran, aku akan selalu menganggapnya rumah. Karena rumah-rumah yang pernah kusinggahi itulah yang membentukku seperti saat ini.
Begitupun kau, seseorang yang pernah merelakan hatinya untuk kutinggali, dan kujadikan rumah. Percayalah, bahkan sampai sekarang pun kau masih kuanggap sebagai rumahku, meskipun aku tahu, sudah bukan waktunya lagi aku pulang kesana.
Aku selalu mendoakan kebaikan-kebaikan untukmu, terlepas dari entah kau memang baik atau tidak. Semoga, penghuni barumu sanggup menjaga dan merawatmu lebih baik daripada yang pernah kulakukan untukmu. Sebab jika tidak, tak mungkinlah aku kembali untuk membersihkan debu yang kerontang disana. Sebab, aku bukan lagi pemilik rumah itu. Selamat pulang

Aku meringkuk diujung kamar sambil menggenggam selimut, membiarkan air mataku membanjiri kasur yang menjadi saksi hilangnya sesuatu yang aku pertahankan mati-matian seumur hidup. Ia baru berhenti setelah aku benar-benar menangis. Dan sekarang dengan mudahnya kuberikan kepadanya, walaupun pada awalnya ia yang setengah memaksa. Sekarang apa? Sudah terlambat jika aku menyesalinya, toh semua tak akan sama lagi.

"Kau tidak apa-apa jika begini?", tanyanya. Membuatku mendelik kesal. Kenapa baru sekarang ia bertanya, seolah memang ia sengaja melakukannya.

"Iya, nggak apa-apa kok", jawabku sambil menggaruk dinding yang mulai terkelupas catnya.

"Maaf, jika akhirnya aku memilihnya", bisiknya, lirih.

"Iya, tak apa. Asal, jangan kau perlakukan ia seperti kau memperlakukanku. Ia gadis baik, dan polos. Berbeda denganku, memang aku yang terlampau bodoh", lalu aku menangis lagi. Setelah semua ini, ternyata ia memang lebih memilih gadis itu. Sedang aku disini hanyalah permen karet yang sudah hilang manisnya, lalu ia buang sembarangan.

"Kumohon, jangan berkata seperti itu. Kau tak sebodoh yang kau kira", setelah itu kudengar isaknya. Oh, ternyata ia masih punya hati. Tapi tetap saja ia bajingan. Tiba-tiba aku menyesal telah berbuat baik kepadanya selama ini, dan semua hartaku, mau saja kuberikan kepadanya setiap ia memintanya, hingga sekarang tak ada lagi yang tersisa dariku. Kenapa aku sebodoh ini, Tuhan? Kenapa? Kenapa cinta begitu buta, sehingga aku tak melihat bahwa ternyata ia hanya menjadikanku bonekanya?

"Demi kau, aku akan menjaganya"

Hah, demi aku? Apanya yang demi aku? Kau sudah puas menikmatiku, mengambil semua yang kau mau, mendapatkan semua yang kau minta. Sedang aku? Aku hanya mendapat luka dan air mata karena tingkah nistamu itu. Meskipun setiap kali kau memintanya, aku selalu menyesal setelah itu.

Lalu ia berdiri menyalakan lampu, memakai baju dan celana pendek warna biru favoritnya, kemudian membuka pintu dan pergi. Meninggalkanku sendiri yang masih terisak di atas ranjang dan hanya ditutupi selimut yang belum dicuci. Samar-samar kudengar suara ayam, sudah pagi rupanya.

-Dosa Tengah Malam
Kau kira aku apa
Seenaknya datang lalu pergi
Kembali lagi sesukamu
Lalu menghilang tanpa jejak
Aku bukan haltemu
Bukan juga mainan
Aku masih punya hati
Walaupun sudah terserak dan tertiup angin
Jika menurutmu air mata itu hiburan bagimu
Pergi sajalah ke hutan
Maka kau dapati banyak air yang terjun
Tak usahlah kau kuras punyaku
Sampai kerontang tak sisa
Hingga kudaki puncak lalu teriakku
Menggema bersama seluruh sembiluku
Lalu turun menjelma hujan
Kau sudah mampir ke toko yang salah
Ia sudah lama pindah
Bertemu rumah baru yang nyaman
Bukan gudang usang seperti punyamu
Bahkan rumah hantu lebih baik
-Gadis Lugu Di Pasar Minggu

Pagi itu, langit masih merah, bahkan fajar belum menampakkan sosoknya yang gagah dalam aroma jingga. Tapi, ia datang, dengan mata sembap dan berurai air mata menghiasi mukanya yang penuh ekspresi putus asa bercampur kecewa. Aku mempersilahkannya masuk, menyuruhnya duduk dan bernafas perlahan, agar ia merasa lebih tenang. Jika aku harus menilai seburuk apa penampilannya saat itu, mungkin kau bisa membayangkan penampilan seseorang yang baru saja melihat hantu yang ingin mencekiknya tiba-tiba, kurang lebih seperti itu.

"Dia...dia...dia sudah mengambil sesuatu yang paling berharga dariku. Aku hancur", lalu tangisnya pecah tak terbendung. Ia meminjam bahuku untuk menaruh kepalanya, aku tahu pasti ini terlalu berat untuknya. Aku hanya bisa menunggu ia selesai menangis sambil mengelus rambut panjangnya.

"Sekarang aku harus bagaimana, aku orang paling bodoh dimuka bumi ini. Lebih baik aku mati saja", bisiknya kemudian.

"Jangan, cukuplah jika kau merasa bodoh. Jangan kau tambah lagi kebodohanmu dengan mengakhiri nyawamu. Memangnya kau bisa menjamin bahwa kematianmu tak lebih menderita dari hidupmu?", tatapku tajam. Mungkin aku terlalu keras padanya, tapi aku paling benci mendengar orang yang ingin mati karena alasan yang sangat konyol. Bahkan jika itu karena kau sudah terlanjur kehilangan mahkotamu.

"Maafkan aku, tapi memang tak ada yang terselesaikan hanya dengan mengakhiri hidupmu. Mungkin hidupmu memang berakhir, tapi apa kau bisa benar-benar yakin bahwa penderitaanmu ikut berakhir?", ulangku, lebih pelan dan lirih.

"Sudahlah, semuanya sudah tak akan kembali lagi. Sekarang yang bisa kau lakukan adalah tetap melangkah sebagaimana mestinya, dan buktikan kepadanya bahwa kau masih bisa bertahan dan menunjukkan jika kau kuat. Aku yakin kau pasti bisa"

"Terima kasih", lalu ia mengambil tisu dan mengelap sisa air mata yang menempel di pipi mungilnya.
"Sekarang, aku merasa lebih baik. Hahaha, rasanya aku ingin menertawakan diriku sendiri", diluar dugaanku, perempuan itu tertawa, sambil masih mengusap air mata dan ingusnya.

"Asal kau tidak berubah menjadi gila, tak masalah", dan aku ikut tertawa bersamanya.

Setelah ia puas tertawa, ia memandangku dan berbicara lirih,
"Nanti, jangan jadi laki-laki seperti dia. Cukup dia saja yang begitu, kau jangan. Aku tahu kau masih punya hati"

"Tak akan", aku tersenyum, "Aku ini memang bodoh, tapi aku bukan bajingan spertinya"
"Sekarang, kuantar kau pulang. Istirahatkan badan pikiranmu dulu, kau pasti tidak tidur semalam karenanya"

-Pagi Yang Muram
Aku masih termenung diujung jendela, memikirkan kata-katanya barusan. Entahlah, saat ini aku tak mampu berpikir jernih, dan aku memang sedang tak ingin berpikir. Apapun itu, biarkan aku menikmati hujan yang singgah di bingkai jendelaku.
Tiba-tiba dia datang dari belakangku, memegang kedua pundakku dengan lengannya yang kekar, dan langsung menciumku. Astaga, ia sanggup menghanyutkanku sedalam ini. Sejenak, aku merasa bagai perempuan paling hina, sebelum bibirku larut dalam lumatan bibirnya. Bukannya melepaskan, aku justru membalasnya dengan hangat. Ini adalah ciuman pertamaku, dan ia yang mendapatkannya. Tuhan, aku ingin menangis rasanya. Setelah melepas bibirku, aku memberanikan diri membuka mulut,
"Lalu, bagaimana dengannya?"
"Entahlah, yang penting sekarang aku bersamamu", jawabnya enteng lalu merengkuh kepalaku, menaruhnya di bahunya yang kekar.
"Apa kau juga melakukan ini dengan yang lain?"
"Iya", gumamnya ringan. Sumpah, kalau bukan karena aku mencintainya, sudah kuambil pisau di dapur dan menggoroknya. Tapi aku menikmati ciumannya.
"Jadi, menurutmu sekarang, kita ini apa?"
"Kalau aku terserah bagaimana engkau", dan ia pergi, masuk ke kamarnya lalu mematikan lampu. Meninggalkanku sendiri ditengah kalutku. Ingin rasanya aku berlari, berteriak kepada rintik hujan diluar sana. Apakah aku masih memiliki harga diri, setelah semua yang terjadi? Bodohkah aku, jika masih mengharapkan sedikit rasa darinya? Sedikit saja, tak lebih. Salahkah? Jangan tanya aku, aku sendiri tak tahu. Yang kutahu hanya aku menginginkannya, tak lebih.
Tuhan, aku tak ingin menjadi Sephia abad ke-21. Kumohon, tolong aku.

-Dosa Tengah Malam
Aku tidak mengingat apa-apa lagi tentang itu. Yang kuingat hanya, waktu itu hujan, dan kopiku masih panas. Lalu, tiba-tiba kepalaku sakit dan semua menjadi gelap seketika, dan aku memilih untuk duduk di teras kesayanganku. Entahlah, semua kisah abstrak ini membuatku lelah, seolah hidupku adalah sinetron tak berujung yang episodenya bisa mencapai tiga digit.

Dia menghampiriku, lalu tiba-tiba saja menciumku hingga aku sesak. Entah apa maksudnya, tapi aku menikmatinya. Kadang aku bingung sendiri, mengapa aku mau. Padahal belum tentu ia melakukannya karena benar-benar mencintaiku, dan aku sangat tahu itu. Ya Ampun, sebodoh inikah diriku? Merelakan bibirku dilumat oleh laki-laki yang bahkan hatinya tak pernah disisakan untukku walaupun hanya sepetak.

Setelah ia selesai dan memberiku beberapa jarak, semua kembali diam. Hanya hujan dan gemuruhnya yang berbicara memenuhi langit, sisanya memilih sunyi. Sampai kapan aku terus menjadi pemuas nafsunya yang hina, menjadi boneka bernyawa hanya karena aku menginginkannya. Sedangkan ia, sedetikpun tak pernah berpikir bahwa aku menyukainya, bukan, aku sudah jatuh cinta padanya. Semua yang ada padanya, aku suka. Entah itu dengkurannya, suara baritonnya, bahkan aku suka caranya tersenyum sambil menahan kentut, entah bagaimana caranya.

Sungguh, aku menikmati setiap detik kebersamaan ini, setiap dosa yang kami ukir dilangit gelap, setiap kisah yang kami tulis di bilik 3x4 meter itu, semuanya. Tapi aku hampa, kosong. Karena aku tahu, hatinya tak akan pernah ia berikan untukku. Tiba-tiba, aku merasakan ada yang hangat dimataku, sesuatu yang menggenang dan akhirnya linang ke pipiku, aku menangis? Entahlah, lalu aku menatapnya nanar sambil berkata,

"Jadi, selama ini kau anggap aku apa?"
Dia terdiam, "Maaf", jawabnya lirih.

"Aku ini bukan mainan", kataku setengah berteriak. Air mataku tak terbendung lagi. Aku berbalik dan berlari keluar secepat mungkin, berharap tangisku luruh dibawah hujan.

"Maaf", bisiknya sekali lagi.

-Dosa Tengah Malam
Malam itu, tiba-tiba terasa begitu asing, begitu pekat. Entah, tapi seperti ada yang memancarkan aura aneh ini, begitu kuat. Kami duduk berdekatan, tapi aku merasa ia sangat jauh.

"Kau kenapa? Kok, tiba-tiba begini", tanyanya memecah sunyi.

"Aku tak apa. Memang biasanya bagaimana?", balasku ketus, sebenarnya terpaksa kulakukan. Aku hanya ingin menjaga, entah apa yang harus kujaga. Maaf jika membuatmu menjadi merasa bersalah, meskipun kenyataannya memang kau yang salah.

"Biasanya kau selalu tersenyum, ada apa?", dia masih berusaha mendekat, meski aku tahu pasti ia sangat canggung.

"Entahlah, menurutmu?", lalu aku menatapnya dalam-dalam. Seakan mampu kutelanjangi matanya, lalu ia berpaling. Sunyi kembali membawa riuh, meniup cangkir kopi kami yang masih mengepul kesana kemari. Sebenarnya, aku juga tak ingin seperti ini. Aku rindu padanya, ingin rasanya aku berdiri lalu memeluknya, menciumnya hingga aku tak bisa bernafas. Tapi, aku sadar, sampai kapanpun aku tak pernah ada di hatinya. Aku tahu, hatinya hanya tersedia untuk gadis itu, gadis berkacamata yang tinggal nun jauh diseberang pulau.

Maafkan aku, jika malam ini aku membuatmu terluka. Tapi kau tak pernah memikirkan luka-luka yang selalu kau lukis kepadaku setiap saat, dan aku harus menghentikannya. Aku lelah, setelah semua yang kau lakukan dan kukorbankan, nyatanya aku tetap tak akan pernah bisa masuk kedalam relungmu. Aku tak akan pernah menjadi rusukmu yang hilang. Bahkan, kau hanya menganggapku hiburan diwaktu senggangmu, ketika bosan mulai menjajah pikiran dan ragamu.

Aku hanya seonggok daging menjijikkan yang kau santap setiap malam, aku tahu, tapi aku juga perempuan, aku masih punya hati. Seandainya ia tahu, aku tahu apa yang akan ia rasakan.Tidakkah kau pernah berpikir tentang itu? Pasti tidak, bahkan kau tak memikirkan perasaanmu sendiri. Yang kau pentingkan hanya nafsu liarmu saja.

"Aku tidur dulu", kemudian ia bangkit, meninggalkanku sendiri bersama cangkir-cangkir yang mulai dingin. Tuhan, masih maukah Kau mengampuniku? Kau yang katanya Maha Pengampun, Maha Pengasih, dan Maha segala-galanya itu. Aku pasrah, Tuhan. Jika memang begini akhirnya, biarlah, memang semua salahku. Aku ingin menangis, berteriak saat itu juga, terserah mereka terbangun atau tidak, bukan urusanku.

"Maaf", nyatanya hanya gumaman itu yang sanggup keluar, dan linangan air mata.

-Dosa Tengah Malam
Hujan masih setia membasahi malam sepiku, membuat para pemimpi bersandar pasrah pada jemari lelap panjang. Sedangkan bayanganku masih setia menemaniku berdiri diujung bingkai basah, mendekap semua resah yang kau ciptakan lewat kata. Aku lemas, bertumpu seadanya pada sebuah ujung disana.  
Seakan tak ada lagi pagi untuk esok, setelah kau sembunyikan dibalik seimut tebalmu. Resah masih bersamaku, ia enggan beranjak karena hujan masih bertumbangan. Ingin kusiram luka yang menganga sedari pagi, setelah kau beranjak pergi bersamanya. 
Kau yang hanya meninggalkan senyuman diujung bangku lapuk di taman itu, tanpa titipan nasehat. Membuatku harus memilih terluka, tenggelam dalam kubangan gelap bernama pahit. Jika saja kau tak datang saat hujan, mungkin aku hanya akan membenci nyamuk. 
Ketika kau memilih untuk memperbaiki kisahmu, dan menggantikanku dengan ia yang bisa menggenggam tanganmu sekarang. Aku hanya mampu menggantikan hadirmu dengan kenangan yang sepotong-sepotong itu, beserta penggalan lain dari puisi yang hilang.
Semoga esok, langit masih berbaik hati membuat pagi  yang baru, untuk mengganti malam yang basah oleh rindu dari sebuah ruang. Dan burung-burung masih setia bernyanyi, menghibur seorang pemuda ringkih dari masa lalu. Agar ia sanggup berjalan lagi untuk mencari kepingan pelangi yang terisak disebuah senja.

Written By Yus. Powered by Blogger.