Hari ini aku punya cerita
Yang kudapat dari sekolah batin
Gurunya pengalaman
Muridnya aku

Tadi disekolah, banyak pelajaran kudapat
Yang paling berat adalah berhenti berharap
Agar aku tak tiba tiba menjadi bodoh
Lalu cepat mati karenanya

Manusia memang suka berharap
Meski tahu bahwa mereka dilukai olehnya
Dicabik oleh setiap angan yang tak pernah sampai pada realita
Hingga berkeping diluluh lantakkan nyata yang ternyata lebih perih

Awalnya aku tak mengerti mengapa begitu
Sebab baru kali ini kutaruh harap setinggi langit
Namun kemudian kusadar
Mengharapmu adalah kesiaan

Sudah, abaikan saja cerita jelek ini
Nanti kalian malah membenci harapan
Lalu menyalahkanku dan mengataiku sesat
Tapi kalau kalian suka, aku tak masalah

Terakhir, aku suka senyummu
Manis seperti gula batu
Beruntung aku tak terkena diabetes
Jadi bisa kupandangi kau lama lama

Hidup itu ternyata penuh dengan teka-teki, dan juga pelajaran. Seperti aku yang belajar untuk berani untuk kembali menjalani hidup setelah sekian lama hidup penuh ketakutan. Aku belajar bahwa kita bebas menyukai dan mengagumi siapapun, atau apapun itu, selama kita mengenal kata cukup. Aku belajar bahwa jatuh cinta ternyata banyak wujudnya, bahwa cinta bisa datang dalam bentuk apapun. 

Loving someone means that we accept them to be part of our life, our journey, for the person they are, not the person we expect them to be. Mencintai seseorang tanpa ekspektasi memang bukan hal yang mudah. Tapi mencintai seada-adanya jauh lebih seru. Karena kita tahu bahwa mereka tetaplah manusia, dengan segala kekuranganya. Mencintai seseorang dengan sadar bahwa mereka bisa melakukan kesalahan membuat kita hidup jauh dari kecewa. And we were made to complete each others. 

Ketika menerima dan melengkapi terasa lebih menenangkan daripada selalu mengkoreksi dan berdebat tentang siapa yang salah. Seperti aku  yang menemukanmu ketika hidupku sedang tidak baik-baik saja. Kau menemukanku saat aku sedang berantakan dan tidak karuan.(ini ga nyambung sih) 

‎Terimakasih untuk hal-hal yang sudah kita lakui, dan kepada semua yang akan kita segerakan. Terimakasih sudah bersedia menjadi teman seperjalanan, bercurah hati, dan juga berbagi luka. Celotehmu selalu mewarnai hariku, bahkan saat aku sedang tidak ingin mendengarkan. Terimakasih atas semua warna baru yang kau hadirkan dalam hidupku yang abu-abu. Terimakasih sudah membantuku menemukan diriku sendiri. 

‎Terimakasih karena sudah berusaha sekuat yang kamu mampu untuk memahami aku yang rumit seperti kabel telkom ini. Aku berjanji untuk tetap merepotkan dan selalu mengeluh setiap pulang kerja. 


Cuma kamu yang punya perasaan, cuma kamu yang boleh dingertiin. Cuma kamu yang penting. Perasaanku nggak penting. Aku harus bisa ngertiin kamu. Aku ga perlu dingertiin. Iya gapapa. Sakit sih, rasanya kayak ga dianggep, ga penting, dan gapunya harga diri. Tapi aku gapapa kok, udah biasa. Emang gapernah ada orang yang beneran peduli sama aku. Dimata mereka perasaanku nggak valid. Apa yang aku rasain nggak penting. Jadi, buat apa aku utarain, gitu kan? Aku selalu jadi orang yang harus selalu mikirin perasaan orang lain. 

Ketika aku bikin orang lain terluka, aku harus tanggung jawab. Ketika aku yang berantakan, aku harus benerin semuanya sendirian. Iya, sendirian. Karena orang lain nganggep aku kuat, jadi aku boleh disakiti tanpa harus ngerasa bersalah. Karena orang lain nganggep aku kuat, aku gaboleh cengeng, aku gaboleh kelihatan lemah. Aku gaboleh nunjukin perasaanku yang sebenarnya. Aku harus selalu kelihatan baik-baik saja. What have I done to deserve all of this kinda treatment? I'm already lost everything. 

Aku bahkan nggak tau harus ngapain, mauku apa, apa yang sebenarnya aku rasain. Rasanya kayak kebas. Harus mati rasa, supaya aku nggak bisa ngerasain sakit. Rasanya kayak udah hancur, berantakan, dan gatau caranya bangun ulang. Aku bener-bener sendirian. Karena aku nggak pernah benar-benar dianggep penting buat kamu, dan aku nggak penting bagi siapapun. 

Gapapa kok, kamu ga perlu minta maaf buat apapun. Aku ngerti. Kamu boleh pergi, menghilang, dan kembali sesukamu. Ini rumhamu. Kamu mau anggap aku manusia atau patung, itu terserah kamu. Aku nggak akan marah, aku nggak boleh marah. Gapapa kok, mungkin menurut kamu aku pantes diginiin. Gapapa. Kamu boleh ngapain aja sesuka hatimu.


Semalem aku mimpiin kamu lagi. Aku mimpi kamu udah nggak ngeblok aku di semua sosmed kamu. Biar aku bisa tahu kabar kamu. Terus pas bangun, ternyata cuma mimpi. Mimpinya terlalu sederhana, tapi sakitnya sama aja. Tiap pagi aku bangun dengan perasaan hancur karena aku sayang kamu, aku kangen kamu, tapi aku udah gabisa ngelakuin apapun, karena kamu udah pergi, kamu udah nggak ada disini. Yang nemenin aku tinggal kenangan-kenangan tentang kamu, dan rasa bersalah udah bikin kamu pergi. 

Aku ngerti kalo kamu benci aku karena kamu masih sayang aku. Karena, ketika kamu pergi harusnya kamu bisa ninggalin rasa sayang itu disana, tapi ternyata gabisa. Aku juga benci diriku sendiri karena berkali-kali hancurin kamu. Hancurin kita. Hancurin semua yang pernah kita bangun bersama. Aku benci tiap inget betapa hancurnya kamu karena aku. Aku juga benci kenapa aku terus ngelakuin hal-hal yang bikin kamu pergi. Aku benci karena sekarang aku gapunya rumah lagi. Aku gatau harus pulang kemana. Aku terusir karena kelakuanku sendiri. Aku benci karena tiba-tiba kita harus seperti orang asing yang nggak saling kenal. Orang asing yang tahu rahasia masing-masing. 

Tiap inget alasan kamu pergi, aku selalu nyesel. Maaf ya, ternyata aku butuh kamu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, dan aku nggak mau hidup tanpa kamu. Tapi aku tahu, kamu udah nggak akan mau sama aku. Jangankan kembali, berteman aja mungkin kamu masih enggan. Aku ngerti. Aku ngerti aku udah hancurin kamu luar dalam dan aku nggak pantes untuk dimaafin, apalagi sampe dapet kesempatan lagi. Kamu pasti juga udah capek ngasih kesempatan berkali-kali kalau ujungnya selalu aku sendiri yang bikin kamu kecewa. 

Aku harap kamu segera nemuin kebahagiaanmu sendiri. Aku harap kamu bisa sayang sama diri kamu sendiri. Aku sayang kamu. Maaf udah bikin kecewa.



Aku tiba-tiba keinget sama lagunya John Mayer yang  judulnya "You're Gonna Live Forever In Me". Terus sambil aku cerna tiap liriknya, yang emang ngena banget sih. Tiap bait itu rasanya kayak relate banget sih. And damn, rasanya nyebelin banget. Sakitnya masih kerasa banget, luka yang aku kasih ke kamu, aku yang bikin kamu pergi. 

I miss you. So bad. Maaf kalau aku bikin kita jadi kayak dua orang asing yang nggak saling kenal. Iya, aku masih ngerasa bodoh banget tiap inget kejadian itu. Maaf kalau aku bikin kamu pergi. Maaf kalau aku nggak bisa jagain kamu. Maaf kalau aku nggak bisa bikin kamu bahagia sama aku. Maaf kalau kita harus berakhir kayak gini. 

Aku pernah baca kutipan "orang yang mampu menyakiti kita hingga berdarah, kebanyakan adalah orang terdekat kita", terus aku ngaca, aku benci kenapa aku harus jadi orang itu. Kamu mungkin benci sama aku, gapapa. Aku paham kok, karena aku juga benci diriku sendiri. Dan kamu juga nggak harus maafin aku, karena kayaknya emang salahku nggak bisa dimaafin, dan nggak pantes dimaafin. Aku tahu kok, maaf ga bikin luka yang terlanjur menganga di hati kamu sembuh tiba-tiba. Maaf nggak bikin semuanya kembali normal. Maaf juga nggak bikin kesalahanku tiba-tiba hilang begitu aja. 

Aku harap kamu bisa berdamai sama diri kamu sendiri. Kamu bisa maafin diri kamu dulu, karena memang dari awal semuanya bukan salah kamu. Kamu harus bisa nerima dirimu sendiri dulu, seperti aku menerima kamu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki. Kalau bukan karena aku, kan nggak akan terjadi seperti ini. Aku nggak pernah nyalahin kamu sedikitpun atas apapun. Kamu nggak salah apa-apa sama dirimu sendiri, kamu juga nggak salah apapun sama aku. Jadi, jangan ikut ngerasa bersalah ya. 

Mungkin kamu sekarang lagi muak sama aku. Dan itu gapapa. Kan emang aku yang jahat. Aku cuma berharap, barangkali di masa depan, ketika masih ada sisa maaf untuk aku, kita bisa saling sapa lagi. Aku tahu, kesannya kayak kurangajar banget nggak sih, sempet-sempetnya ngomong gini. Tapi, aku cuma nggak pengen kita benar-benar jadi asing, padahal sebelumnya kamu pernah bikin aku bahagia. Semoga kamu juga bisa bahagia. Nggak, kamu harus bahagia. Tiap hari, tiap habis sholat aku selalu berdoa buat kebahagiaanmu. Aku minta, seandainya kamu memang jodohku, semoga kita bisa bertemu lagi entah gimana caranya. Seandainya kamu bukan jodohku, semoga kamu selalu sehat, dilindungi, dan selalu bahagia. Supaya habis itu giliran aku. Karena, bahagiaku ya kamu. Duniaku ya kamu. Aku maunya stuck di kamu, and I will. 

Maaf ya, kesannya kayak aku meratap dan maksa banget ngebet kamu buat nggak ninggalin aku, hehe. Tapi ya disisi lain aku sering mikir, untuk apa juga kita terus bersama kalau kamu nggak bahagia jalaninnya. Untuk apa diterusin kalau yang kamu rasain cuma sakit. Aku mau kamu bahagia. Kalau ternyata orangnya bukan aku, yaudah. Kalau ternyata bahagianya nggak sama aku, ya aku harus rela. Kalau ternyata bahagianya sama orang lain, ya aku harus terima. Kamu sendiri pernah bilang, kan, kalau kamu nggak mau stuck di aku aja. Aku nggak ngerti kamu beneran apa cuma becanda, tapi aku inget itu. Ya mungkin, itu keputusan tepat yang kamu ambil. As long as you're happy, I'm alright. 

Makin kesini kayaknya aku makin ngelantur deh. Aku juga nggak tau daritadi ngomong apa, kayak ngalir aja. Ya kamu mungkin masih inget kalau aku bukan orang yang gampang cerita dan terbuka, jadi maaf kalau ceritanya berantakan kayak orangnya. Tapi, semoga kamu masih punya banyak teman untuk diajak sharing, cerita, main bareng, dan semoga mereka semua bisa menghibur kamu. Aku mau balik jadi diriku yang dulu aja, hehe. Karena aku cuma punya kamu, meski kamu nggak pernah benar-benar jadi milikku. Makasih udah pernah singgah di hati aku. Makasih, udah mau sayang sama aku. Makasih, udah mau nerima aku yang begini adanya. Makasih, udah ngasih aku banyak kesempatan, padahal aku sendiri yang bikin kamu kecewa. Makasih, udah pernah jadi rumah buat aku. Aku masih jadi rumah buat kamu, kapanpun kamu mau pulang. Aku akan selalu ada disini. Selamanya. Makasih udah mau dengerin cerita dan keluhan aku yang banyak ga jelasnya. Aku sayang kamu, selamanya. Kalau yang ini kayaknya aku bisa garansi. Maaf ya, kalau aku belum cukup baik buat kamu. 



Forever yours


Written By Yus. Powered by Blogger.