Kata Tak Bijak
Kadang melamun tak hanya sekedar membuang waktu.
Berharap memang selalu menimbulkan luka
Dan manusia setiap hari melukai dirinya dengan harapan harapan
Maka aku disini melukai hatiku dengan berangan tentangmu
Angan yang mungkin hanya menjadi angin
Padahal aku tahu, selamanya kau hanya menginginkannya
Ia yang bahkan hanya bisa melukaimu
Dan aku disini yang membalut semua sakitmu
Maukah kau membuka mata sejenak dan menoleh kebelakang
Akan kau dapati ku tersenyum menanti
Oh biarkan, biarkan si pandir bodoh ini bernyanyi
Melagukan kekalahan telak melawan harapan
Toh lusa, hujan masih turun
Semoga, anganku luntur bersama rintiknya
Tidurlah, hari sudah larut
Sebentar lagi subuh menjelang
Tidurlah, lupakan segala penatmu
Rebahkan kepalamu di dadaku
Sisihkan sejenak dukamu
Biarkan aku mendongeng untukmu
Sebuah dongeng yang kau suka
Bermimpilah, biarkan aku yang menjaga ragamu
Akan kupeluk semua luka basah itu
Agar tetap hangat kau meski badai turun
Semoga, embun yang hinggap di bingkai dapat menyegarkanmu
Atau, biar aku saja yang membangunkanmu dengan satu kecup
Entah aku yang bodoh atau memang kau yang begitu mempesona, yang aku tahu senyum kecilmu tanpa sengaja membuat jantungku berdetak kencang. Memang tak kutemukan hal istimewa darimu, tapi kesederhanaan dan kepolosanmu mewarnai hidup telah menjadi magnet besar yang menarik hatiku kedalamnya. Maka, jika kau berkenan, bolehkah aku ikut mewarnai harimu? Maaf jika kemudian isanku terlalu lancang lantas meneriakkan namamu dipuncak gunung. Semoga kabut pagi mau membersihkan dosaku karena mengagumimu
Dalam hidup ada banyak hal yang tak bisa kita hindari. Seperti cinta dan kehilangan, misalnya. Bahwa kita tak pernah tahu bahwa cinta selalu datang tiba-tiba, sebelum akhirnya kita sadar. Dan bahwa kita tak harus memiliki untuk merasakan kehilangan. Juga kenyataan lain bahwa manusia dapat mendadak bijak ketika sedang kehilangan.
-Stasiun Kereta, Menjelang Subuh