Senja ini selalu sama
Kadang jingga, setengah merah, setengah biru
Jika sedang mendung warnanya kelabu
Tapi senja selalu sepi
Mungkin bagi sebagian orang indah dipandang
Tapi tidak bagi warga metropolitan
Senja hanyalah lambang kelelahan
Akhir dari sebuah hari yang akan terulang esok
Monoton, selalu begitu
Hanya berbeda jika menjelang hari libur

Tapi tidak bagi para pelukis dan penyair
Senja selalu istimewa
Senja selalu punya cerita yang berbeda
Senja selalu sempurna
Sekarang aku mengerti, kenapa kadang seseorang harus menjadi egois. Sebenarnya, bukan karena ia ingin menjadi egois dan mengabaikan semuanya. Tapi, ia hanya butuh waktu sejenak untuk melupakan semua penat yang menggantung dipundak dan kembali menjadi pribadi yang lepas dari segala macam 'rasa tanggung jawab' untuk melayani semua orang yang ada disekitarnya.
Aku ingin sekali menjadi manusia egois, cukup saat ini. Setelahnya, aku akan kembali menjadi yang semua orang pikirkan. Setidaknya beri aku waktu hanya untuk membahagiakan diriku sendiri, sekali ini saja. Kumohon, aku sudah tak tahan lagi. Sudah terlalu lama aku hidup memikirkan bagaimana caranya membahagiakan semua orang hingga aku lupa sebenarnya apa yang aku sukai, apa yang aku inginkan, bahkan aku lupa bagaimana caranya membahagiakan 'aku'.
Kumohon, aku tak pernah meminta ini-itu kepadamu. Aku tak pernah menyuruhmu melakukan hal yang tak kau inginkan. Hanya untuk kali ini saja, sekali ini saja, izinkan aku menjadi egois. Izinkan aku untuk kembali mengosongkan kepala dan hatiku dari semua kepenatan dunia ini, dan melepas semua beban yang ada dipundakku ini. Setelahnya, aku akan kembali kepadamu. Aku akan kembali menjadi apa yang kau mau, menjadi budak yang selalu kau suruh ini itu. Aku pastikan aku sudah siap saat aku kembali.
Izinkan aku melihat pantai sendirian, menjelajah gunung sendirian, menyeberangi laut sendirian, berlari sendirian, duduk sendirian, bahkan tertawa sendirian. Biarkan aku menjadi gila. Toh aku memang sudah gila. Hanya saja aku sedang berpura-pura menjadi orang waras agar tidak ketahuan. Tapi aku berani jamin, setelah aku menjadi gila, aku akan lebih waras dari sebelumnya.
Untuk kali ini saja, izinkan aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi.
Yang membuat perpisahan begitu memilukan -tidak, sebenarnya menyakitkan - adalah ketika semua sudah tak lagi sama. Tak ada lagi tempat berbagi dan bercerita. Hilang sudah ritual khusus yang hanya dimiliki berdua, begitu pula kebiasaan-kebiasaan yang mulai ada sejak membangun 'kita'. Yang tersisa sekarang hanya kenangan, bukti sejarah dan dirimu sendiri disudut kamar gelap.
Meski begitu, perpisahan bukanlah hal yang harus ditakuti, sebab manusia memang tak pernah bisa lepas dari yang namanya perpisahan dan kehilangan, bukan? Berpisah dengan mimpi-mimpi yang tak tergapai, dengan keluarga, bahkan dengan orang yang kita duga adalah belahan jiwa. Sakit memang, karena setiap perpisahan selalu diiringi oleh luka. Tapi, hei, bukankah tak ada yang abadi di dunia ini? Bahkan alam semesta inipun akan hancur suatu saat nanti.
Dalam hidup, selalu ada proses daur ulang. Setiap yang datang, pasti akan pergi. Atau keduanya bisa terjadi bersamaan. Sekarang tertawa, esoknya menangis. Ada yang bahagia, ada pula yang berduka. Bisa sukses, bisa juga tidak. Mari kita anggap itu semua adalah pelangi kehidupan yang sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Jika kita tak menyalahkan yang datang, lantas mengapa harus mempermasalahkan yang pergi? Mengapa manusia seenaknya mengatakan hidup ini tidak adil, seolah-olah dia mengerti adil itu apa, bisa jadi malah dia belum bisa menjadi pribadi yang adil, bukan mengadili.
Bersedih karena kehilangan wajar, karena manusiawi. Marah karena perpisahan pun begitu. Tapi selama tetap dalam batas yang masih dapat ditoleransi dan tidak mengganggu kebebasan orang lain.
Terinspirasi dari sebuah pertanyaan di jagat internet.
Malam ini aku mau pergi berburu. Membunuhi semua rasa dan harapan akanmu, sampai mati dan punah seperti harimau jawa. Mungkin nanti aku juga akan membunuh hatiku sendiri, lalu kubakar diatas perapian. Kau ikut?
Alhamdulillah bisa posting lagi, setelah vakum beberapa dekade. Akhirnya bisa meluangkan waktu sejenak untuk kembali ceriwis di laman blog tercinta ini. Harap maklum kalo lebay, kurang piknik, di kampus terus.
Kali ini ane nggak posting sesuatu yang berbau sastra karena emang lagi ngga ada ide. Tapi ane pengen ngasih review alias testimoni motor ane, si Mega, habis ganti sepatu baru. Yah meskipun baru ban belakang aja karena dana yang terbatas, maklum mahasiswa kere. Nah kebetulan Mega ane pasangin sepatu merk itali yang udah kondang di dunia motorsport dan udah jadi langganan ducati yaitu Pirelli. Nah, meskipun pirelli ini merk italia, tapi ban seri MT-75 ini diproduksi di Brazil, biar lebih murah katanya. Tapi meskipun made in brazil, kualitas ya tetap Pirelli punya.
Kemaren ane beli ban ini online sih, karena di tempat ane tinggal belum ada distributor ban pirelli. Semuanya ban lokal, kalopun ada yang impor, biasanya cuma michelin sama bridgestone. Ane ganti ban sama peleknya sekalian. Dari pelek standarnya yang cuma 1.60x18 dibalut ban IRC NR25 3.00 18 ane ganti jadi pelek 3.00x18 plus Pirelli MT75 130/70-18. Wih, gede amat? Emag muat? Emang sengaja ane pertahanin pake pelek 18 karena kalo dilihat-lihat punya temen kalo megapro pake ban 17 kok jadi keliatan melar, hehe. Ban gede juga enak buat ngelibas medan apapun. Buat naik trotoar juga tinggal hajar, tapi jangan ditiru ya hehe. Oh iya, pelek lebar buat ukuran 18 cuma ada jari2 karena nggak ada pelek racing. Soalnya pelek 18 rata-rata emang buat modif caferacer sama japstyle dkk. Kalo buat masuk ke arm standar ban segitu juga muat kok, tapi emang motor udah ane tinggiin biar nggak mentok sama spakbor bawah jok. Biar makin enak dipake touring, sekalian biar kelihatan gagah juga.
Setelah ane sebulan pake ban ini belum ada masalah, gripnya juga oke. Meskipun notabene ini ban dengan kompon medium, bukan soft, tapi gripnya nggak kalah sama ban soft. Di trek kering buat rebah masih gigit, tapi nggak berani miring banget karena ban depan masih cungkring. Di trek basah juga mantap. Nggak licin, buat ngerem mendadak juga nggak selip, dipake miring juga oke.
Nah, buat brosis yang pengen ganti ban impor tapi merasa kemahalan buat nebus pilot streetnya michelin atau battlaxnya bridgestone, ane saranin pake ban ini aja.
Dari polanya, ban ini dirancang buat touring, jadi nggak perlu diragukan lagi buat gripnya. Soal harga, ane waktu itu nebus bannya di to******a 570.000, ban dalem 45.000 sama pelek 3.00 berikut jari2 sekalian setel 365.000. Lumayan murah kan? Oh iya, ban yang ane pake itu stok yang udah lama, produksi 2011. Apa masih aman? Masih, asal disimpan dengan benar, selama usianya masih 10 tahun ban itu aman digunakan. Itu standar ban internasional sih. Silahkan dicoba, bagi yang suka ban gede tapi grip mantaf.