Orang bilang, bahagia itu sederhana
Bagiku, memang sederhana
Sesederhana kamu tersenyum
Sesederhana caraku mencintaimu

Orang bilang, cinta itu buta
Terjadi secara acak dan abstrak
Bagiku, memang abstrak
Makanya aku mencintaimu

Tapi, orang bilang aku ngelantur
Apalagi kamu, bilang aku mimpi
Kalau aku bilang, ini puisi
Puisi orang jatuh cinta, denganmu

Seandainya aku harus memilih
Melepasmu pergi atau menahanmu
Aku pasti akan membiarkanmu pergi, terserah
Asal aku yang antar

-Yus
Aku bukan penyair
Aku juga bukan guru bahasa
Apalagi musisi
Aku cuma mencintaimu

Jadi, maklumi saja jika aku mendekatimu
Apalagi memikirkamu
Kan, aku sedang jatuh cinta
Dan aku mencintaimu

Kalau suatu hari nanti
Kamu juga mencintaiku
Doakan, semoga besok entah lusa
Aku bisa melamarmu

Tapi, kalau kamu tidak
Ya tidak jadi
Berarti aku tahu satu hal
Kamu tidak mau makan martabak bersamaku

-Yus
Ah! Sakit
Tapi sakit itu tak seberapa
Jika bersanding dengan malu
Yang kadang iseng bertamu

Duhai, sungguh pekatnya
Malu yang mengguyur deras
Menggusur semua sakit dan perih
Hingga segala mati rasa

Duhai, betapa sakit itu tak berarti
Meskipun sebiji sawi
Sirna karena malu yang bahkan tak tertampak
Sungguh beratnya

Ah! Sakit
Tapi sakit itu tak seberapa
Jika bersanding dengan malu
Yang kadang iseng bertamu

-Yus-
Mungkin, kau sadar, atau mungkin juga tidak. Atau memang kau yang sengaja membiarkan semua terjadi sesuai kehendakmu. Entahlah, aku hanya mengikuti arusmu. Telah kusingkap semua tabir tersembunyi dalam gelapku, entah memang seperti itu nyatanya, atau sekedar gubahan hebatmu. Hal yang sengaja tak kau ungkap, bahkan setelah lenyapmu yang sekejap lalu. Tapi, entah, sedikitpun aku tak menyimpan marah padamu. Bukan hanya karena tak sanggup, pun tak ingin. Karena hanya dengan memaafkan dan merelakanmu adalah cara terbaikku untuk mendendam, dan mencintamu.

Rasa ini? Ah, biarlah ia tetap tinggal. Sepertinya ia masih betah bersemayam dalam nurani. Selamanya pun tak apa. Biarlah tetap sebesar dulu. Mungkin semua memang tak akan menjadi serumit ini kalau saja kau bukan tamu pertama. Tapi, biarlah kenangan itu bermetamorfosis perlahan, mengendap menjadi sejarah. Bahwa aku tak menyesal mencintaimu. Hanya, mengapa harus kau yang pertama?

Aku masih penasaran, kunci apa yang kau gunakan untuk membuka hati ini dulu. Bahkan, hingga kini aku masih belum mampu menutupnya serapat dulu. Masih sering bocor disana sini. Semoga kepergianmu mengajarkanku lebih banyak dari itu semua. Sepertinya aku harus mengganti dengan pintu baru.

Mungkin aku memang tek pernah menjadi tujuanmu. Tetapi pernah membuatmu tersenyum adalah sebaik-baik perjalanan.
Aku ingin menjadi angin yang selalu berhembus kemanapun kau pergi, agar aku dapat selalu mengawasimu.
Aku ingin menjadi udara yang selalu ada dimanapun kau berada. Yang selalu hadir kapanpun kau butuh.
Aku ingin menjadi matahari, yang selalu menyapamu setiap pagi. Menemani hari-hari indah dan ceriamu.
Aku ingin menjadi bulan, yang selalu hadir dalam mimpi indahmu. Menjagamu dalam lelap.
Aku ingin menjadi hujan, yang setiap tetesnya sanggup meluruhkan bebanmu, menghanyutkan sedikit dukamu. Menghapusnya, dan mengganti semua luka dengan pelangi indah di matamu.
Aku ingin menjadi bayanganmu, yang selalu setia mengikutimu kemanapun dan kapanpun. Agar kau tak merasa sendirian.
Aku ingin menjadi sofa, agar kau dapat berandar kepadaku dan mengusir segala penatmu.

Written By Yus. Powered by Blogger.