Malam Yang Panjang #2

/
0 Comments
Malam itu, tiba-tiba terasa begitu asing, begitu pekat. Entah, tapi seperti ada yang memancarkan aura aneh ini, begitu kuat. Kami duduk berdekatan, tapi aku merasa ia sangat jauh.

"Kau kenapa? Kok, tiba-tiba begini", tanyanya memecah sunyi.

"Aku tak apa. Memang biasanya bagaimana?", balasku ketus, sebenarnya terpaksa kulakukan. Aku hanya ingin menjaga, entah apa yang harus kujaga. Maaf jika membuatmu menjadi merasa bersalah, meskipun kenyataannya memang kau yang salah.

"Biasanya kau selalu tersenyum, ada apa?", dia masih berusaha mendekat, meski aku tahu pasti ia sangat canggung.

"Entahlah, menurutmu?", lalu aku menatapnya dalam-dalam. Seakan mampu kutelanjangi matanya, lalu ia berpaling. Sunyi kembali membawa riuh, meniup cangkir kopi kami yang masih mengepul kesana kemari. Sebenarnya, aku juga tak ingin seperti ini. Aku rindu padanya, ingin rasanya aku berdiri lalu memeluknya, menciumnya hingga aku tak bisa bernafas. Tapi, aku sadar, sampai kapanpun aku tak pernah ada di hatinya. Aku tahu, hatinya hanya tersedia untuk gadis itu, gadis berkacamata yang tinggal nun jauh diseberang pulau.

Maafkan aku, jika malam ini aku membuatmu terluka. Tapi kau tak pernah memikirkan luka-luka yang selalu kau lukis kepadaku setiap saat, dan aku harus menghentikannya. Aku lelah, setelah semua yang kau lakukan dan kukorbankan, nyatanya aku tetap tak akan pernah bisa masuk kedalam relungmu. Aku tak akan pernah menjadi rusukmu yang hilang. Bahkan, kau hanya menganggapku hiburan diwaktu senggangmu, ketika bosan mulai menjajah pikiran dan ragamu.

Aku hanya seonggok daging menjijikkan yang kau santap setiap malam, aku tahu, tapi aku juga perempuan, aku masih punya hati. Seandainya ia tahu, aku tahu apa yang akan ia rasakan.Tidakkah kau pernah berpikir tentang itu? Pasti tidak, bahkan kau tak memikirkan perasaanmu sendiri. Yang kau pentingkan hanya nafsu liarmu saja.

"Aku tidur dulu", kemudian ia bangkit, meninggalkanku sendiri bersama cangkir-cangkir yang mulai dingin. Tuhan, masih maukah Kau mengampuniku? Kau yang katanya Maha Pengampun, Maha Pengasih, dan Maha segala-galanya itu. Aku pasrah, Tuhan. Jika memang begini akhirnya, biarlah, memang semua salahku. Aku ingin menangis, berteriak saat itu juga, terserah mereka terbangun atau tidak, bukan urusanku.

"Maaf", nyatanya hanya gumaman itu yang sanggup keluar, dan linangan air mata.

-Dosa Tengah Malam


You may also like

No comments:

Written By Yus. Powered by Blogger.