Kita semua pasti pernah mendengar kalimat "hidup itu ibarat mampir minum". Dan memang benar, bahwa hidup ini terasa amat sangat singkat. Bahkan bagi seseorang yang berusia lanjut. Karena kehidupan yang sebenarnya justru baru akan dimulai ketika seseorang menemui kematian. Terlepas dari agama apa yang kita anut atau aliran apa yang anda percayai, kecuali atheisme tentunya, semuanya membahas kehidupan setelah mati. Saya pernah merenung tentang apa maksud dan tujuan manusia hidup, kemudian mati, lalu dihidupkan lagi. Lalu hilang begitu saja bak diterpa angin. Dan akhir-akhir ini saya pernah dihantui pikiran tentang bagaimana jika suatu saat nanti saya mati ketika saya sedang berbuat dosa dan belum bertobat.

Saat inipun saya kembali bertanya-tanya tentang perjalanan hidup ini, karena baru saja saya berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa nenek saya tercinta, yang pernah mengasuh saya saat SD karena saya tinggal jauh dari orang tua saya, dipanggil kehadapan-Nya. Nenek saya berpulang setelah perjuangan panjangnya melawan gangguan pada pernafasannya beberapa tahun silam. Bahkan sebelum beliau dipanggil, beliau masih diuji lagi, yakni harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Hingga ayah saya harus merelakan pekerjaannya demi merawat ibunya tercinta. Saya yakin dan percaya bahwa sakit merupakan salah satu sarana untuk menggugurkan dosa. Bahkan dalam sakitnya, beliau masih menyempatkan diri untuk bangun pukul 3 pagi dan menunaikan tahajjud dikala saya dan kebanyakan orang lain masih terbuai mimpi indah. Salah satu hal yang saya kagumi dari nenek saya adalah semangatnya untuk beribadah, yang sampai saat ini saya masih belum bisa menirunya.

Pernah suatu hari, saat beliau diuji oleh Yang Maha Kuasa yakni kemampuan pengelihatannya diambil, beliau menangis karena tidak bisa lagi melihat dan membaca Al-Qur'an. Yang dapat saya tangkap dari semua penjabaran ini adalah, nenek saya sepertinya sangat memahami betul konsep bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Terlepas dari aktivitasnya sebagai seorang ibu, nenek, buyut, dan guru, beliau selalu mengajak kami semua, siapapun itu, untuk selalu berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan dalam setiap nasehatnya. Sekarang, sebagai renungan bagi saya dan pembaca sekalian, sudahkah kita memahami tujuan kita diciptakan dan tujuan hidup kita didunia ini?


 NB: Ini saya tulis dalam perjalanan saya pulang ke rumah setelah medengar kabar bahwa nenek saya sudah selesai berjuang melawan penyakitnya 

Satu satunya hal yang irasional adalah cinta. Cinta membuat seaeorang tidak berada di tempat yang seharusnya. Ia sanggup mengubah seseorang yang awalnya membenci sesuatu berubah menjadi menyukainya, bahkan sebaliknya. Cinta adalah kekuatan maha dahsyat yang sampai saat ini masih belum ditemukan partikel partikel spesifik yang menjadi penyusunnya. Kekuatan masif, yang sangat mengagumkan, juga mengerikan.

Cinta mampu memnyembuhkan orang sekarat dengan ajaib, dan mampu membuat orang yang awalnya berakal sehat menjadi gila. Sudah banyak bukti nyata dari semua kriteria diatas yang terjadi dalam realita sehari hari penduduk alam semesta ini. Ilmu matematika sampai saat ini tak mampu menemukan rumus penyebab seseorang jatuh cinta, bahkan sains pun tidak dapat menyusun senyawa cinta.

Satu satunya ilmu yang mampu menterjemahkan cinta dalam bahasanya sendiri hanyalah filsafat, dan sastra. Darinya, tak perlu ada kamus yang menjabarkan tentang cinta. Biarkan manusia memilih, apa sebenarnya cinta menurut mereka. Karena cinta tak pernah bisa dipaksakan.

Tapi seyogyanya kita juga mempertimbangkan masak masak sebelum memutuskan untuk mencintai sesuatu, atau seseorang. Ingatlah, diatas langit masih ada langit. Masih ada Sang Pemilik Cinta yang mengasihi hamba-Nya tanpa pamrih. Yang selalu mengawasi kita siang-malam, bukti cinta yang suci dan murni Masih ada orang tua yang selalu mengasihi dan menjaga kita tanpa kenal lelah, menunjukkan makna cinta yang sebenarnya, juga bukti dari kekuatan kolaborasi cinta dan kasih sayang manusia. Boleh jatuh cinta, asal kita tetap berusaha menjadi diri sendiri dan tidak terlalu menggebu, yang ada malah hanya menjadi nafsu belaka.
Senja ini selalu sama
Kadang jingga, setengah merah, setengah biru
Jika sedang mendung warnanya kelabu
Tapi senja selalu sepi
Mungkin bagi sebagian orang indah dipandang
Tapi tidak bagi warga metropolitan
Senja hanyalah lambang kelelahan
Akhir dari sebuah hari yang akan terulang esok
Monoton, selalu begitu
Hanya berbeda jika menjelang hari libur 
Tapi tidak bagi para pelukis dan penyair
Senja selalu istimewa
Senja selalu punya cerita yang berbeda
Senja selalu sempurna
Sekarang aku mengerti, kenapa kadang seseorang harus menjadi egois. Sebenarnya, bukan karena ia ingin menjadi egois dan mengabaikan semuanya. Tapi, ia hanya butuh waktu sejenak untuk melupakan semua penat yang menggantung dipundak dan kembali menjadi pribadi yang lepas dari segala macam 'rasa tanggung jawab' untuk melayani semua orang yang ada disekitarnya.

Aku ingin sekali menjadi manusia egois, cukup saat ini. Setelahnya, aku akan kembali menjadi yang semua orang pikirkan. Setidaknya beri aku waktu hanya untuk membahagiakan diriku sendiri, sekali ini saja. Kumohon, aku sudah tak tahan lagi. Sudah terlalu lama aku hidup memikirkan bagaimana caranya membahagiakan semua orang hingga aku lupa sebenarnya apa yang aku sukai, apa yang aku inginkan, bahkan aku lupa bagaimana caranya membahagiakan 'aku'.

Kumohon, aku tak pernah meminta ini-itu kepadamu. Aku tak pernah menyuruhmu melakukan hal yang tak kau inginkan. Hanya untuk kali ini saja, sekali ini saja, izinkan aku menjadi egois. Izinkan aku untuk kembali mengosongkan kepala dan hatiku dari semua kepenatan dunia ini, dan melepas semua beban yang ada dipundakku ini. Setelahnya, aku akan kembali kepadamu. Aku akan kembali menjadi apa yang kau mau, menjadi budak yang selalu kau suruh ini itu. Aku pastikan aku sudah siap saat aku kembali.


Izinkan aku melihat pantai sendirian, menjelajah gunung sendirian, menyeberangi laut sendirian, berlari sendirian, duduk sendirian, bahkan tertawa sendirian. Biarkan aku menjadi gila. Toh aku memang sudah gila. Hanya saja aku sedang berpura-pura menjadi orang waras agar tidak ketahuan. Tapi aku berani jamin, setelah aku menjadi gila, aku akan lebih waras dari sebelumnya. Untuk kali ini saja, izinkan aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi. 
Yang membuat perpisahan begitu memilukan -tidak, sebenarnya menyakitkan - adalah ketika semua sudah tak lagi sama. Tak ada lagi tempat berbagi dan bercerita. Hilang sudah ritual khusus yang hanya dimiliki berdua, begitu pula kebiasaan-kebiasaan yang mulai ada sejak membangun 'kita'. Yang tersisa sekarang hanya kenangan, bukti sejarah dan dirimu sendiri disudut kamar gelap.

Meski begitu, perpisahan bukanlah hal yang harus ditakuti, sebab manusia memang tak pernah bisa lepas dari yang namanya perpisahan dan kehilangan, bukan? Berpisah dengan mimpi-mimpi yang tak tergapai, dengan keluarga, bahkan dengan orang yang kita duga adalah belahan jiwa. Sakit memang, karena setiap perpisahan selalu diiringi oleh luka. Tapi, hei, bukankah tak ada yang abadi di dunia ini? Bahkan alam semesta inipun akan hancur suatu saat nanti.

Dalam hidup, selalu ada proses daur ulang. Setiap yang datang, pasti akan pergi. Atau keduanya bisa terjadi bersamaan. Sekarang tertawa, esoknya menangis. Ada yang bahagia, ada pula yang berduka. Bisa sukses, bisa juga tidak. Mari kita anggap itu semua adalah pelangi kehidupan yang sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Jika kita tak menyalahkan yang datang, lantas mengapa harus mempermasalahkan yang pergi? Mengapa manusia seenaknya mengatakan hidup ini tidak adil, seolah-olah dia mengerti adil itu apa, bisa jadi malah dia belum bisa menjadi pribadi yang adil, bukan mengadili. Bersedih karena kehilangan wajar, karena manusiawi. Marah karena perpisahan pun begitu. Tapi selama tetap dalam batas yang masih dapat ditoleransi dan tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Terinspirasi dari sebuah pertanyaan di jagat internet.
Written By Yus. Powered by Blogger.