Pernahkah anda sangat ingin melakukan sesuatu tapi merasa begitu malas untuk melakukannya? Bahkan membayangkan harus berdiri dan berjalan saja rasanya sangat berat. Atau, pernahkah anda bermimpi untuk menjadi apa yang anda inginkan, tetapi enggan untuk mewujudkannya. Mungkin istilah kasarnya, hanya berangan tapi tak ingin. Atau bahkan, apakah anda mempunyai tugas yang sebenarnya memiliki tenggat waktu atau deadline panjang dan anda bisa mengerjakan sedikit demi sedikit, atau bahkan sekaligus selesai, tapi malah menundanya hingga detik-detik terakhir? Kalau semua pertanyaan diatas anda jawab dengan kata 'YA', maka itu sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya manusia memang memilii sifat alami bernama 'malas'.

Serajin apapun seseorang pasti pernah merasa malas. Nah, yang membedakan antara orang rajin dan orang malas adalah seberapa kuat kita melawan rasa malas itu. Atau bahkan, lebih kuat mana antara keinginan melakukan sesuatu dengan keinginan menunda sesuatu. Saya baru saja menonton sebuah video yang membuat saya tersadar bahwa malas memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, juga tidak ada obatnya. Namun, malas ini dapat diatasi dengan melawan. Ya, melawan rasa malas itu agar tidak menjadi semakin kuat. Setiap manusia pada dasarnya kreatif dan memiliki mimpi yang tinggi, tapi kita selalu memiliki sebuah tembok raksasa yang menghalangi jalan kita. Halangan itu sebenarnya bukan finansial, bukan pula kebodohan. Yang lebih berbahaya lagi, halangan itu adalah malas. Sebab semiskin apapun, jika ia memang berniat untuk mewujudkan mimpinya, maka ia akan berani melakukannya dan melakukan apapun (dalam hal positif) untuk meraihnya. Begitu juga jika alasannya bodoh. Sudah ada ribuan bahkan jutaan orang yang membuktikan bahwa tidak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada hanyalah orang malas. Jika ia tidak bisa, maka ia akan melakukan apapun yang diperlukan agar menjadi bisa dengan keringatnya sendiri, bukan dengan bermain curang.

Kecurangan lahir karena ada kemalasan. Seseorang malas berjuang, tapi ingin meraih hasil yang instan, maka ia memilih untuk bebuat curang. Curang itu nikmat, dan membuat orang ketagihan. Bagaimana tidak, kita tidak perlu melakukan usaha apapun, tiba-tiba apa yang kita inginkan tercapai. Tapi banyak yang tidak menyadari bahwa berbuat curang itu sama halnya dengan melempar bumerang. Memang diawal terasa nikmat, tapi suatu saat bisa jadi kenikmatan tersebut berbalik menjadi petaka bagi kita. Contohnya, ada mahasiswa kedokteran yang ingin lulus tanpa harus belajar dan mengerjakan praktikum, tugas, ujian dan sebagainya. Lalu setelah lulus, ketika ia menjadi dokter dan kedatangan pasien yang sedang kritis, ia tidak tahu pasiennya harus diapakan. Dan pada akhirnya pasien yang seharusnya dapat diselamatkan harus meregang nyawa ditangan sang dokter 'gadungan' tersebut (kalau tidak boleh saya katakan abal-abal).

Rasa malas akan hilang dengan sendirinya jika kita bersemangat, atau ketika kita berhadapan dengan tenggat waktu yang semakin mendekat. Yang kedua adalah apa yang sering kita sebut dengan ' the power of kepepet' atau 'SKS'. Padahal SKS sendiri dapat berakibat buruk bagi tubuh jika terus menerus dilakukan. Atau mungkin, ada yang bertanya "saya sudah semangat, tapi kok masih malas ya". Kalau sudah begitu mari kita reset sejenak pikiran kita, dan mulai berpikir ulang tentang apa yang kita kerjakan. Mengapa kita melakukannya? Apa tujuan awal kita memilihnya? Sudah berapa banyak waktu dan materi yang kita kerahkan untuknya? Apa benar ini pilihan kita? Setelah sejauh ini, apakah anda berpikir untuk menyerah? Coba tanyakan hal-hal tersebut pada diri anda sendiri. Lakukan perbaikan niat, karena apapun yang anda lakukan, jika tidak anda niatkan dan yakini, akan menjadi hampa dan sia-sia.

Diinspirasi
dari sebuah akun di media sosial
Tanah itu masih basah
Oleh duka dan airmata
Tergeletak diatasnya karangan kembang
Masih harum dan segar

Awan senantiasa selimuti kota
Membuat pagi terasa sendu
Bahkan untuk merelakan sebuah nama
Yang terlampau cepat pulang

Hanya ada airmata dan
Doa menggema dipelosok desa
Lirih, namun syahdu
Membuat pendengarnya bergetar

Selesai sudah perjalanan panjang itu
Berhenti disebuah bilik
Dipagi yang terlalu awal
Membuat sanak diujung berebut pulang
Kita semua pasti pernah mendengar kalimat "hidup itu ibarat mampir minum". Dan memang benar, bahwa hidup ini terasa amat sangat singkat. Bahkan bagi seseorang yang berusia lanjut. Karena kehidupan yang sebenarnya justru baru akan dimulai ketika seseorang menemui kematian. Terlepas dari agama apa yang kita anut atau aliran apa yang anda percayai, kecuali atheisme tentunya, semuanya membahas kehidupan setelah mati. Saya pernah merenung tentang apa maksud dan tujuan manusia hidup, kemudian mati, lalu dihidupkan lagi. Lalu hilang begitu saja bak diterpa angin. Dan akhir-akhir ini saya pernah dihantui pikiran tentang bagaimana jika suatu saat nanti saya mati ketika saya sedang berbuat dosa dan belum bertobat.

Saat inipun saya kembali bertanya-tanya tentang perjalanan hidup ini, karena baru saja saya berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa nenek saya tercinta, yang pernah mengasuh saya saat SD karena saya tinggal jauh dari orang tua saya, dipanggil kehadapan-Nya. Nenek saya berpulang setelah perjuangan panjangnya melawan gangguan pada pernafasannya beberapa tahun silam. Bahkan sebelum beliau dipanggil, beliau masih diuji lagi, yakni harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Hingga ayah saya harus merelakan pekerjaannya demi merawat ibunya tercinta. Saya yakin dan percaya bahwa sakit merupakan salah satu sarana untuk menggugurkan dosa. Bahkan dalam sakitnya, beliau masih menyempatkan diri untuk bangun pukul 3 pagi dan menunaikan tahajjud dikala saya dan kebanyakan orang lain masih terbuai mimpi indah. Salah satu hal yang saya kagumi dari nenek saya adalah semangatnya untuk beribadah, yang sampai saat ini saya masih belum bisa menirunya.

Pernah suatu hari, saat beliau diuji oleh Yang Maha Kuasa yakni kemampuan pengelihatannya diambil, beliau menangis karena tidak bisa lagi melihat dan membaca Al-Qur'an. Yang dapat saya tangkap dari semua penjabaran ini adalah, nenek saya sepertinya sangat memahami betul konsep bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Terlepas dari aktivitasnya sebagai seorang ibu, nenek, buyut, dan guru, beliau selalu mengajak kami semua, siapapun itu, untuk selalu berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan dalam setiap nasehatnya. Sekarang, sebagai renungan bagi saya dan pembaca sekalian, sudahkah kita memahami tujuan kita diciptakan dan tujuan hidup kita didunia ini?


 NB: Ini saya tulis dalam perjalanan saya pulang ke rumah setelah medengar kabar bahwa nenek saya sudah selesai berjuang melawan penyakitnya 

Satu satunya hal yang irasional adalah cinta. Cinta membuat seaeorang tidak berada di tempat yang seharusnya. Ia sanggup mengubah seseorang yang awalnya membenci sesuatu berubah menjadi menyukainya, bahkan sebaliknya. Cinta adalah kekuatan maha dahsyat yang sampai saat ini masih belum ditemukan partikel partikel spesifik yang menjadi penyusunnya. Kekuatan masif, yang sangat mengagumkan, juga mengerikan.

Cinta mampu memnyembuhkan orang sekarat dengan ajaib, dan mampu membuat orang yang awalnya berakal sehat menjadi gila. Sudah banyak bukti nyata dari semua kriteria diatas yang terjadi dalam realita sehari hari penduduk alam semesta ini. Ilmu matematika sampai saat ini tak mampu menemukan rumus penyebab seseorang jatuh cinta, bahkan sains pun tidak dapat menyusun senyawa cinta.

Satu satunya ilmu yang mampu menterjemahkan cinta dalam bahasanya sendiri hanyalah filsafat, dan sastra. Darinya, tak perlu ada kamus yang menjabarkan tentang cinta. Biarkan manusia memilih, apa sebenarnya cinta menurut mereka. Karena cinta tak pernah bisa dipaksakan.

Tapi seyogyanya kita juga mempertimbangkan masak masak sebelum memutuskan untuk mencintai sesuatu, atau seseorang. Ingatlah, diatas langit masih ada langit. Masih ada Sang Pemilik Cinta yang mengasihi hamba-Nya tanpa pamrih. Yang selalu mengawasi kita siang-malam, bukti cinta yang suci dan murni Masih ada orang tua yang selalu mengasihi dan menjaga kita tanpa kenal lelah, menunjukkan makna cinta yang sebenarnya, juga bukti dari kekuatan kolaborasi cinta dan kasih sayang manusia. Boleh jatuh cinta, asal kita tetap berusaha menjadi diri sendiri dan tidak terlalu menggebu, yang ada malah hanya menjadi nafsu belaka.
Senja ini selalu sama
Kadang jingga, setengah merah, setengah biru
Jika sedang mendung warnanya kelabu
Tapi senja selalu sepi
Mungkin bagi sebagian orang indah dipandang
Tapi tidak bagi warga metropolitan
Senja hanyalah lambang kelelahan
Akhir dari sebuah hari yang akan terulang esok
Monoton, selalu begitu
Hanya berbeda jika menjelang hari libur 
Tapi tidak bagi para pelukis dan penyair
Senja selalu istimewa
Senja selalu punya cerita yang berbeda
Senja selalu sempurna
Written By Yus. Powered by Blogger.