Alhamdulillah bisa posting lagi, setelah vakum beberapa dekade. Akhirnya bisa meluangkan waktu sejenak untuk kembali ceriwis di laman blog tercinta ini. Harap maklum kalo lebay, kurang piknik, di kampus terus.
Kali ini ane nggak posting sesuatu yang berbau sastra karena emang lagi ngga ada ide. Tapi ane pengen ngasih review alias testimoni motor ane, si Mega, habis ganti sepatu baru. Yah meskipun baru ban belakang aja karena dana yang terbatas, maklum mahasiswa kere. Nah kebetulan Mega ane pasangin sepatu merk itali yang udah kondang di dunia motorsport dan udah jadi langganan ducati yaitu Pirelli. Nah, meskipun pirelli ini merk italia, tapi ban seri MT-75 ini diproduksi di Brazil, biar lebih murah katanya. Tapi meskipun made in brazil, kualitas ya tetap Pirelli punya.
Kemaren ane beli ban ini online sih, karena di tempat ane tinggal belum ada distributor ban pirelli. Semuanya ban lokal, kalopun ada yang impor, biasanya cuma michelin sama bridgestone. Ane ganti ban sama peleknya sekalian. Dari pelek standarnya yang cuma 1.60x18 dibalut ban IRC NR25 3.00 18 ane ganti jadi pelek 3.00x18 plus Pirelli MT75 130/70-18. Wih, gede amat? Emag muat? Emang sengaja ane pertahanin pake pelek 18 karena kalo dilihat-lihat punya temen kalo megapro pake ban 17 kok jadi keliatan melar, hehe. Ban gede juga enak buat ngelibas medan apapun. Buat naik trotoar juga tinggal hajar, tapi jangan ditiru ya hehe. Oh iya, pelek lebar buat ukuran 18 cuma ada jari2 karena nggak ada pelek racing. Soalnya pelek 18 rata-rata emang buat modif caferacer sama japstyle dkk. Kalo buat masuk ke arm standar ban segitu juga muat kok, tapi emang motor udah ane tinggiin biar nggak mentok sama spakbor bawah jok. Biar makin enak dipake touring, sekalian biar kelihatan gagah juga.
Setelah ane sebulan pake ban ini belum ada masalah, gripnya juga oke. Meskipun notabene ini ban dengan kompon medium, bukan soft, tapi gripnya nggak kalah sama ban soft. Di trek kering buat rebah masih gigit, tapi nggak berani miring banget karena ban depan masih cungkring. Di trek basah juga mantap. Nggak licin, buat ngerem mendadak juga nggak selip, dipake miring juga oke.
Nah, buat brosis yang pengen ganti ban impor tapi merasa kemahalan buat nebus pilot streetnya michelin atau battlaxnya bridgestone, ane saranin pake ban ini aja.
Dari polanya, ban ini dirancang buat touring, jadi nggak perlu diragukan lagi buat gripnya. Soal harga, ane waktu itu nebus bannya di to******a 570.000, ban dalem 45.000 sama pelek 3.00 berikut jari2 sekalian setel 365.000. Lumayan murah kan? Oh iya, ban yang ane pake itu stok yang udah lama, produksi 2011. Apa masih aman? Masih, asal disimpan dengan benar, selama usianya masih 10 tahun ban itu aman digunakan. Itu standar ban internasional sih. Silahkan dicoba, bagi yang suka ban gede tapi grip mantaf.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus lebih menyibukkan diriku lagi. Aku tak ingin punya waktu senggang meski hanya sebentar", katanya tegas sambil menghisap batang rokoknya yang tinggal seruas jari itu.
"Loh, kenapa? Kamu nggak takut kecapekan terus sakit?", balasku heran.
"Nggak, kenapa takut? Kalau memang sudah lelah, biar saja sekalian sampai aku mampus. Aku lebih lelah harus memikirkannya setiap kali ada waktu kosong. Membuatku semakin gila dan sesak. Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan mati semudah itu"
Aku masih terdiam, mencerna kata-katanya barusan. Sepertinya dia memang memerlukannya.
"Tapi kamu nggak perlu sampai memaksakan dirimu begitu, masih banyak perempuan baik diluar sana yang mau menerima dan menghargaimu apa adanya", termasuk aku. Sial, yang terakhir hanya tertahan dalam nafas.
"Makasih, Sa. Kamu selalu peduli denganku. Tapi aku sudah terlalu lelah berdebat dengan hatiku sendiri, biarlah nanti hatiku membusuk lalu mati. Toh, tak akan ada yang menangisinya, kan?", dia tersenyum. Aku tahu, senyumnya terlalu dipaksakan. Jauh didalamnya, ia terluka. Apakah kamu tidak sadar, bahwa aku yang akan menangisimu. Menangisi kepergian hatimu, karena sudah terlanjur kau kunci rapat-rapat.
"Sudah malam, Sa. Aku pamit dulu", kemudian aku hanya melihat punggungnya yang menghilang ditelan pintu.
Kalau kamu hanya menjadikanku halte untuk singgah, aku tak apa
Kalau kamu hanya menjadikanku persembunyian sementaramu, aku terima
Kalau kamu hanya anggap aku tempat ceritamu, ya aku tak masalah
Sudah biasa, dan aku sudah kuat, semoga
Tapi kalau kamu menganggapku sebagai rumahmu dan tempat kembalimu, ya sudah tentu aku mau dan aku terima
Lha rejeki masa' mau ditolak, kan bodoh itu namanya


Penyair Gadungan
Pada kenyataannya, aku memang belum layak mendampingimu
Karena waktu tega menggerus semua anganku lebih dulu
Toh semua yang kuusahakan untukmu hanya kau pandang seperlunya saja
Kemudian kau berpaling dan kembali kepadanya
Ah, sampai kapanpun aku ini memang bodoh
Bodoh karena terlalu melangit
Barangkali sekarang aku takut ketinggian
Sebab sering kutaruh angan terlalu tinggi
Bahkan menatapmu pun tak ada kuasa
Hanya doa dan mimpi yang mau bersiasat
Membantuku memelukmu dalam gelap
Ternyata jauh itu bukan melulu perkara jarak
Tapi juga urusan hati dan logika
Meski kau dekat, jika pintumu memang hanya untuknya
Aku disini hanya bisa memandang dikejauhan
Karena tak mungkin kumasuk lewat jendela
Macam kucing basah yang lapar
Kuharap kau baik-baik saja disana
Kalau dia menyakitimu lagi, bilang saja
Biar aku yang hapus dukamu
Entah sampai kapan, tapi aku masih untukmu
Semoga hujan malam ini mau melunturkan sedikit anganku tentangmu
Dan membawanya hanyut jauh dibawah tempatku berdiam

Halte, Menjelang Jumat
Kuberi tahu salah satu bentuk egois:

Yaitu ketika kau terlampau mendahulukan orang lain ketimbang dirimu sendiri, bahkan dalam perkara perasaan. Lalu kau menyiksa batinmu sendiri, membiarkannya terluka hingga hatimu mati dan menjadi beku. Hati juga punya hak untuk mengecap bahagia dan belajar tentang kebaikan dari hati yang lain. Itu bukan lagi berkorban, tapi bodoh namanya.
Entah, tapi di kamusku dijelaskan seperti itu. Kalian tak suka, aku tak peduli. Terserahmu saja.
Written By Yus. Powered by Blogger.