Halte Kenangan

/
0 Comments
Mungkin, kau sadar, atau mungkin juga tidak. Atau memang kau yang sengaja membiarkan semua terjadi sesuai kehendakmu. Entahlah, aku hanya mengikuti arusmu. Telah kusingkap semua tabir tersembunyi dalam gelapku, entah memang seperti itu nyatanya, atau sekedar gubahan hebatmu. Hal yang sengaja tak kau ungkap, bahkan setelah lenyapmu yang sekejap lalu. Tapi, entah, sedikitpun aku tak menyimpan marah padamu. Bukan hanya karena tak sanggup, pun tak ingin. Karena hanya dengan memaafkan dan merelakanmu adalah cara terbaikku untuk mendendam, dan mencintamu.

Rasa ini? Ah, biarlah ia tetap tinggal. Sepertinya ia masih betah bersemayam dalam nurani. Selamanya pun tak apa. Biarlah tetap sebesar dulu. Mungkin semua memang tak akan menjadi serumit ini kalau saja kau bukan tamu pertama. Tapi, biarlah kenangan itu bermetamorfosis perlahan, mengendap menjadi sejarah. Bahwa aku tak menyesal mencintaimu. Hanya, mengapa harus kau yang pertama?

Aku masih penasaran, kunci apa yang kau gunakan untuk membuka hati ini dulu. Bahkan, hingga kini aku masih belum mampu menutupnya serapat dulu. Masih sering bocor disana sini. Semoga kepergianmu mengajarkanku lebih banyak dari itu semua. Sepertinya aku harus mengganti dengan pintu baru.

Mungkin aku memang tek pernah menjadi tujuanmu. Tetapi pernah membuatmu tersenyum adalah sebaik-baik perjalanan.


You may also like

No comments:

Written By Yus. Powered by Blogger.